JAKARTA, Kompas.com - Simon Santoso mengaku mempersembahkan gelar juara tunggal putera Djarum Indonesia Open 2012 terutama buat ayahnya yang telah berpulang.
Ayah Simon, Hosea Lim meninggal dunia Maret lalu. "Saya hanya ingin membuktikan kepada almarhum bahwa saya bisa juara di sini. Ini memang sudah lama jadi keinginan saya," kata Simon usai pertandingan final.
Simon mengalahkan pemain China, Du Pengyu di final melalui pertandingan rubber game 21-18 13-21 21-11. Simon menuntaskan perjuangannya dalam 1 jam 19 menit.
"Saya tahu Pengyu merupakan pemain yang ulet, memiliki defense bagus dan selalu mengejar bola. Karena itu saya harus lebih dulu mengelola permainan sebelum menyerang," kata Simon. "Kalau pun gagal, saya akan mulai lagi dari awal."
Setelah merebut game pertama, Simon mengaku bermain ragu-ragu di game kedua. "Saya agak bingung untuk memutuskan kapan saya bertahan dan kapan menyerang. Akibatnya saya justru sering tertekan," lanjutnya.
Untung ia menyadari kesalahannya ini di game ketiga. Dengan sabar ia mengajak Pengyu untuk bermain dengan semua pukulan, sebelum menyerang dan menghasilkan poin. "Saya hanya fokus pada permainan dan mengumpulkan poin," katanya.
Karena fokus pada permainan inilah, Simon tidak menyadari bahwa ia telah mencapai match-point dan bahkan memenangi game ketiga dengan telak 21-11. "Saya terlalu konsentrasi jadi tidak sadar bahwa pertandingan sudah usai. Karena itulah reaksi saya atas kemenangan ini terkesan terlambat."
Simon mengaku ia merasa lebih bertanggungjawab sejak sering dipasang sebagai tunggal utama Indonesia dalam ajang beregu yang penting seperti Piala Thomas. "Memang ada pengaruhnya. Saya jadi merasa orang memberi tanggungjawab dan mempercayakannya kepada saya."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang